Juli 15, 2026

Di Sisi Presiliya, Seorang Bupati Menundukkan Jabatan

Mursal Kautsar

Mursal Kautsar
Redaksi Fala

Bassam menjenguk Presiliya

Siang bergerak pelan di ruang perawatan anak RSUD Labuha. Udara terasa dingin. Cahaya dari jendela jatuh tipis di atas lantai, sementara bunyi monitor medis terdengar berulang, memecah kesunyian dengan irama yang datar.

Di salah satu ranjang, seorang bayi bernama Presiliya sedang menjalani perjuangan pertamanya sebagai manusia.

Tubuhnya masih sangat kecil. Napasnya naik dan turun perlahan. Ia lahir dengan kelainan bawaan yang menyebabkan sebagian usus berada di luar rongga perut—sebuah kondisi serius yang menuntut penanganan medis dan pengawasan ketat.

Di samping ranjang itu, Nita duduk tanpa banyak bergerak. Matanya sembap. Tangannya terus menggenggam jemari putrinya, seakan melalui sentuhan kecil itu ia ingin mengirimkan seluruh kekuatan yang masih tersisa.

Sejak Presiliya lahir, hidup keluarga kecil tersebut berubah menjadi rangkaian kecemasan.

Mereka harus memikirkan kondisi bayi, perjalanan menuju rumah sakit, perawatan yang diperlukan, dan biaya hidup selama berada jauh dari rumah. Kekhawatiran datang hampir bersamaan, membuat langkah untuk membawa Presiliya mendapatkan pertolongan sempat terasa sangat berat.

Namun, di tengah keraguan itu, Kepala Puskesmas Yaba, Kecamatan Bacan Barat Utara, terus memberikan semangat. Keluarga diyakinkan bahwa keselamatan bayi harus menjadi hal pertama yang diperjuangkan.

Harapan yang sempat mengecil itu akhirnya membawa Presiliya ke RSUD Labuha.

Siang tersebut, pintu ruang perawatan terbuka perlahan.

Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba masuk bersama istrinya, Rifa’at Al Sa’adah. Mereka didampingi Direktur RSUD Labuha.

Tidak ada pidato. Tidak ada panggung. Tidak ada barisan kursi atau sambutan resmi.

Hanya sebuah ruangan perawatan, seorang ibu yang sedang cemas, dan bayi kecil yang berjuang mempertahankan hidup.

Langkah Bassam berhenti di sisi ranjang Presiliya. Pandangannya tertuju pada tubuh mungil yang terbaring di bawah pengawasan perangkat medis.

Nita menatap kedatangan mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kabar mengenai kondisi putrinya sampai kepada kepala daerah.

Dengan suara pelan, Nita menceritakan perjalanan yang telah mereka lalui. Tentang rasa takut sejak bayi itu dilahirkan. Tentang keraguan membawa Presiliya untuk mendapatkan perawatan. Tentang biaya yang sempat membuat keluarga kehilangan keberanian.

Bassam mendengarkan.

Sesekali ia melihat Presiliya. Dada bayi itu bergerak perlahan, seolah sedang mengajarkan kepada semua orang di dalam ruangan bahwa hidup tidak selalu dimulai dengan tangis bahagia. Ada kehidupan yang sejak awal harus diperjuangkan dengan rasa sakit, kesabaran, dan keberanian.

Di ruangan tersebut, jabatan terasa kehilangan jarak.

Seorang bupati berdiri bukan sekadar sebagai kepala pemerintahan. Ia hadir sebagai seorang ayah yang memahami bahwa tidak ada kecemasan lebih besar bagi orang tua selain melihat anaknya terbaring sakit.

Rifa’at berada di sisinya. Kehadirannya membuat suasana yang semula kaku menjadi lebih hangat. Sebagai seorang ibu, ia memahami bahasa yang kadang tidak mampu disampaikan melalui kata-kata: tatapan panjang, tangan yang terus menggenggam, serta air mata yang ditahan agar tidak jatuh di hadapan anak.

Bassam kemudian menyerahkan bantuan pribadi untuk meringankan kebutuhan keluarga selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Bantuan itu mungkin tidak dapat menghapus seluruh kecemasan. Namun, bagi keluarga Presiliya, perhatian tersebut memberi satu kepastian penting: mereka tidak sedang berjalan sendirian.

“Kehadiran setiap anak adalah anugerah yang tak ternilai. Serahkan semuanya kepada Allah,” kata Bassam.

Kalimat itu disampaikan tanpa suara tinggi. Tidak seperti arahan dalam rapat pemerintahan atau pidato di hadapan banyak orang. Ia mengalir pelan, seperti doa yang sengaja diletakkan di sisi ranjang seorang bayi.

Bassam meminta keluarga tetap sabar dan tidak kehilangan keyakinan. Sebab, dalam keadaan yang paling sulit, kasih sayang, ketabahan, dan doa sering menjadi kekuatan terakhir yang menjaga seseorang agar tidak menyerah.

Nita mengangguk.

Bagi ibu muda itu, kunjungan tersebut lebih dari sekadar pertemuan dengan seorang pejabat. Di tengah kecemasan mengenai kondisi putrinya, ia melihat pemerintah hadir dalam bentuk yang paling sederhana: datang, mendengar, dan menguatkan.

“Kami benar-benar merasa diperhatikan,” ucapnya singkat.

Di luar ruangan, roda pemerintahan tetap bergerak. Ada dokumen yang harus ditandatangani, rapat yang harus dipimpin, anggaran yang harus dibahas, serta berbagai persoalan daerah yang menunggu keputusan.

Namun, siang itu, persoalan terbesar berada di atas sebuah ranjang kecil.

Namanya Presiliya.

Ia belum mengenal jalan, jembatan, gedung pemerintahan, atau angka-angka dalam anggaran daerah. Dunianya baru sebatas pelukan ibu, tangan tenaga kesehatan, cahaya ruangan, dan bunyi monitor yang setia mengiringi napasnya.

Akan tetapi, dari ranjang kecil itulah makna pembangunan menemukan bentuknya yang paling mendasar.

Pembangunan bukan hanya tentang beton yang berdiri atau jalan yang terbentang. Pembangunan juga tentang memastikan seorang bayi memperoleh kesempatan untuk bertahan hidup. Tentang memastikan seorang ibu tidak kehilangan harapan hanya karena keterbatasan. Tentang menghadirkan negara ketika warganya berada pada titik paling rapuh.

Kunjungan itu berlangsung singkat. Bassam dan Rifa’at kemudian meninggalkan ruang perawatan, memberi kesempatan kepada tenaga kesehatan untuk kembali menjalankan tugas.

Pintu kembali tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Bunyi monitor medis terdengar lagi, teratur dan berulang. Namun, bagi Nita, suasana siang itu tidak lagi sepenuhnya sama. Ada perhatian yang baru saja datang. Ada tangan yang membantu. Ada doa yang dititipkan untuk putrinya.

Ia kembali menatap Presiliya.

Jemari kecil itu masih berada dalam genggamannya.

Di tengah dinginnya ruang perawatan, seorang bayi terus berjuang. Ibunya terus menunggu. Para tenaga kesehatan terus bekerja. Sementara sebuah doa, yang diucapkan pelan oleh seorang pemimpin, tertinggal di sisi ranjang.

Doa agar napas kecil itu terus bertahan.

Doa agar Presiliya kelak pulang dalam pelukan ibunya.

Baca Juga:

Dan doa agar suatu hari nanti, ketika telah tumbuh besar, ia mengetahui bahwa pada awal kehidupannya yang berat, banyak hati pernah berdiri di sisinya menjaga harapan agar tidak padam.

Berita Lainnya

15 Juli 2026

Di Sisi Presiliya, Seorang Bupati Menundukkan Jabatan

14 Juli 2026

Tolak Gabung Syiah, MK Dilaporkan ke Polres Halmahera Selatan Usai Tampar Adik Kandung

1 Juli 2026

Hasil 32 Besar Piala Dunia 2026: Prancis Sikat Swedia 3-0

30 Juni 2026

DP3AKB Halsel Masuk 10 Besar Nasional di Harganas 2026, Ini Deretan Capaiannya

30 Juni 2026

Maroko Lolos, Belanda Nangis, Samuel dan Sardi Nyemplung

29 Juni 2026

Prediksi Jepang vs Brasil: Samba Bisa Mati di Kaki Samurai

Trending

Tolak Gabung Syiah, MK Dilaporkan ke Polres Halmahera Selatan Usai Tampar Adik Kandung

Hasil 32 Besar Piala Dunia 2026: Prancis Sikat Swedia 3-0

DP3AKB Halsel Masuk 10 Besar Nasional di Harganas 2026, Ini Deretan Capaiannya

Maroko Lolos, Belanda Nangis, Samuel dan Sardi Nyemplung