FALA, LABUHA – Perjalanan haji bagi seorang muslim bukan hanya perpindahan fisik menuju Tanah Suci. Ia adalah migrasi batin, sebuah perjalanan transendental untuk menata kembali hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.
Dalam kesadaran itulah Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, berpamitan kepada masyarakat sebelum menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Rifa’at Al-Sa’adah. Momen itu berlangsung dalam Tasyakuran Walimatus Safar di rumah panggung Papaloang, Kecamatan Bacan Selatan, Sabtu, 9 Mei 2026.
Di hadapan masyarakat, Bassam tidak tampil semata sebagai pejabat publik. Ia hadir sebagai seorang hamba yang menyadari keterbatasan diri. Jabatan, dalam suasana itu, seperti kehilangan jarak simboliknya. Yang tersisa adalah manusia yang meminta doa, memohon maaf, dan menundukkan hati sebelum memenuhi panggilan Ilahi.
Suasana haru terasa ketika Bassam menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Halmahera Selatan. Suaranya tertahan. Air matanya jatuh. Kalimat yang ia ucapkan sederhana, tetapi memiliki bobot moral yang kuat.
“Jika selama menjalankan tugas ada salah dan kurang, saya mohon dibukakan pintu maaf,” ujar Bassam.
Permohonan itu bukan sekedar ungkapan personal. Dalam perspektif etika religius, maaf adalah mekanisme penyucian sosial. Ia menjadi jalan untuk merapikan relasi antara pemimpin dan rakyat sebelum seseorang memasuki ruang ibadah yang sangat sakral.
Walimatus Safar, dalam tradisi masyarakat muslim, tidak hanya menjadi seremoni keberangkatan. Ia merupakan ruang kolektif untuk menitipkan doa, membersihkan prasangka, dan menguatkan ikatan spiritual.
Dari ruang seperti itulah perjalanan haji memperoleh dimensi sosialnya.
Bagi Bassam, keberangkatan menuju Tanah Suci menjadi titik reflektif. Haji tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga kejernihan batin.
Di depan masyarakat, ia seakan menegaskan bahwa seorang pemimpin tetap harus kembali pada fitrah paling dasar: menjadi manusia yang rendah hati di hadapan Allah dan terbuka di hadapan rakyat.
Masyarakat yang hadir ikut larut dalam suasana itu. Mereka menyalami Bassam dan keluarganya, menyampaikan doa agar perjalanan ibadah berjalan lancar, diberi kesehatan, keselamatan, dan kembali ke Halmahera Selatan sebagai haji yang mabrur.
Di Papaloang, pagi itu, kekuasaan tidak tampil sebagai retorika. Ia menjadi laku spiritual yang lembut. Air mata Bassam menjadi tanda bahwa di balik struktur pemerintahan, ada ruang batin yang tetap membutuhkan doa dan maaf.
Dan dari rumah panggung itu, sebuah perjalanan dimulai. Bukan hanya perjalanan menuju Makkah, tetapi juga perjalanan menuju keheningan diri, tempat seorang pemimpin menimbang kembali amanah, manusia, dan Tuhan.
