FALA.CO.ID – Prancis belum kehilangan wajah garangnya di Piala Dunia 2026. Les Bleus memastikan tiket ke babak 16 besar setelah menundukkan Swedia 3-0 dalam laga babak 32 besar di Stadion MetLife, East Rutherford, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026) malam waktu setempat atau Rabu (1/7/2026) pukul 06.00 WIT.
Kylian Mbappé kembali menjadi panggung utama. Kapten Prancis itu mencetak dua gol, masing-masing pada menit ke-45 dan 74. Satu gol lainnya lahir dari Bradley Barcola pada menit ke-53. Tiga gol itu cukup membuat Swedia pulang dengan kepala tertunduk dari fase gugur.
Prancis tampil seperti tim yang tahu persis bagaimana mengendalikan malam besar. Sejak peluit awal, pasukan Didier Deschamps langsung mengambil kendali permainan. Mereka menguasai bola, menekan tinggi, dan memaksa Swedia lebih banyak bertahan di area sendiri.
Swedia sebenarnya datang dengan duet penyerang berbahaya: Viktor Gyökeres dan Alexander Isak. Namun, dua nama itu nyaris tak mendapat ruang bernapas. Lini belakang Prancis yang dikawal Jules Koundé, Dayot Upamecano, William Saliba, dan Lucas Digne tampil disiplin membaca pergerakan lawan.
Prancis menurunkan formasi 4-2-3-1 dengan Mike Maignan di bawah mistar. Aurélien Tchouaméni dan Adrien Rabiot menjaga keseimbangan di lini tengah, sementara Ousmane Dembélé, Michael Olise, dan Bradley Barcola menopang Mbappé di depan.
Skema itu membuat Prancis terlihat sangat cair. Dembélé melebar dan menusuk, Barcola bergerak agresif dari sisi sayap, sementara Olise menjadi otak kreativitas di antara lini. Di depan, Mbappé seperti biasa: cepat, tajam, dan mematikan.
Gol pertama Prancis datang tepat sebelum turun minum. Pada menit ke-45, Ousmane Dembélé mengirim umpan matang yang diselesaikan Mbappé menjadi gol. Prancis menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0, sekaligus meruntuhkan tembok kesabaran Swedia.
Memasuki babak kedua, Prancis tidak mengendur. Mereka justru menaikkan tempo. Hasilnya datang pada menit ke-53 ketika Bradley Barcola mencatatkan namanya di papan skor. Gol itu lahir dari servis Michael Olise, yang malam itu menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di lapangan.
Swedia mencoba merespons. Pada menit ke-66, pelatih Swedia memasukkan T. Ali dan B. Zeneli untuk menggantikan E. Stroud dan L. Bergvall. Namun, perubahan itu tidak cukup mengubah arah pertandingan. Prancis tetap menguasai ritme, sementara Swedia kesulitan keluar dari tekanan.
Petaka Swedia makin lengkap pada menit ke-74. Michael Olise kembali menjadi kreator. Umpannya kembali dimaksimalkan Mbappé untuk mencetak gol kedua pribadi sekaligus gol ketiga Prancis. Skor berubah menjadi 3-0, dan pertandingan praktis terkunci.
Setelah gol itu, Deschamps melakukan penyegaran. Malo Gusto masuk menggantikan Jules Koundé pada menit ke-75, disusul Désiré Doué yang menggantikan Ousmane Dembélé satu menit kemudian. Prancis menjaga intensitas sampai akhir, tanpa memberi Swedia peluang berarti untuk bangkit.
Secara statistik, dominasi Prancis terlihat jelas. Les Bleus menguasai sekitar 65 persen bola, melepaskan 25 tembakan, dengan 12 di antaranya tepat sasaran. Nilai expected goals Prancis mencapai 3,17, jauh di atas Swedia yang hanya mencatat xG 0,67.
Kiper Swedia, J. Widell Zetterström, bahkan harus bekerja keras dengan sembilan penyelamatan. Tanpa aksinya, Swedia mungkin pulang dengan kekalahan lebih telak. Di sisi lain, Mike Maignan hanya membuat tiga penyelamatan, sebuah gambaran betapa rapinya struktur pertahanan Prancis malam itu.
Kemenangan ini juga menghadirkan catatan penting bagi Prancis. Mereka mencatat clean sheet pertama setelah lima laga beruntun selalu kebobolan. Bagi tim yang punya lini serang ganas, keberhasilan menjaga gawang tetap perawan menjadi sinyal kuat bahwa Prancis mulai menemukan keseimbangan ideal.
Mbappé sekali lagi membuktikan dirinya sebagai pemain panggung besar. Dua gol ke gawang Swedia mempertegas posisinya sebagai salah satu pencetak gol paling tajam dalam sejarah Piala Dunia. Ia kini terus menyalakan persaingan di daftar top skor turnamen, sekaligus menjaga Prancis tetap berada di jalur juara.
Michael Olise juga layak mendapat sorotan besar. Dua assist-nya memperlihatkan kecerdasan, visi, dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Ia tidak sekadar menjadi penghubung antarlini, tetapi juga pembuka kunci pertahanan lawan.
Sebelum laga, Didier Deschamps sudah menegaskan bahwa Prancis tidak akan bermain dengan rasa takut meski memasuki fase gugur. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bukan berarti tim harus menahan diri. Ucapan itu terbukti di lapangan. Prancis tampil agresif, percaya diri, dan tidak memberi Swedia ruang untuk hidup.
Adrien Rabiot juga sebelumnya mengingatkan bahwa Prancis tidak boleh lengah meski berstatus unggulan. Pesan itu terasa nyata dalam cara Les Bleus bermain. Mereka tidak hanya menang karena kualitas individu, tetapi juga karena disiplin kolektif, pressing rapi, dan transisi yang sangat cepat.
Swedia, sebaliknya, harus menerima kenyataan pahit. Dengan Isak, Gyökeres, Anthony Elanga, dan Lucas Bergvall, mereka punya potensi menyerang yang menjanjikan. Namun, menghadapi Prancis yang begitu matang, potensi itu tidak pernah benar-benar berkembang.
