FALA.CO.ID – Kekalahan Belanda dari Maroko lewat drama adu penalti pada Selasa 30 Juni 2026 rupanya tidak hanya membuat pendukung Oranje patah hati. Di Halmahera Selatan, dua fans Belanda bahkan harus menerima “hukuman adat nobar”: berjalan kaki sekitar 3 kilometer, lalu menceburkan diri ke laut.
Dua fans Belanda itu adalah Samuel dan Sardi. Keduanya sebelumnya membuat perjanjian dengan rekan-rekan nobar. Jika Belanda kalah, mereka harus berjalan dari lokasi nonton bareng menuju Tugu Zero Point, lalu menutup siang pahit itu dengan lompat ke laut.
Begitu Belanda benar-benar angkat koper, Samuel dan Sardi tak bisa lagi menghindar. Keduanya langsung “dikawal” arak-arakan sepeda motor. Bukan seperti pemain juara yang diarak membawa trofi, tetapi seperti fans yang baru saja ditagih janji oleh takdir sepak bola.
Tiga Fens Belanda di Halmahera Selatan usai nyemplung di laut (Foto: Fala.co.id)
Sepanjang jalan Tomori, Labuha, suasana berubah menjadi panggung komedi dadakan. Pengendara yang melintas tertawa melihat Samuel dan Sardi berjalan dengan wajah campur aduk: antara kecewa, malu, pasrah, dan sedikit menyesal pernah terlalu percaya diri kepada Belanda.
“Belanda sudah angkat koper. Jadi mulai saat ini saya jagokan Maroko,” kata Samuel sambil mencoba tersenyum, meski jelas senyumnya masih beraroma adu penalti.
Sardi juga tak kalah tabah. Ia mengaku hukuman itu harus dijalani karena janji nobar adalah janji paling sakral setelah janji politik dan janji bayar utang.
“Harus tetap semangat, walaupun harus loncat ke laut,” ujar Sardi singkat.
Setibanya di Tugu Zero Point, suasana makin pecah. Samuel dan Sardi akhirnya menuntaskan hukuman mereka dengan menceburkan diri ke laut. Air laut siang itu seperti menjadi tempat “ruqyah bola” bagi dua fans Oranje yang gagal move on dari kekalahan.
Warga dan para pengendara yang menyaksikan kejadian itu tak berhenti tertawa. Bagi mereka, kekalahan Belanda memang pahit, tetapi melihat dua fansnya berjalan kaki lalu terjun ke laut membuat malam itu berubah menjadi hiburan rakyat.
