Juni 6, 2026

Pisau Ibrahim dan Cinta yang Tak Terluka

Mursal Kautsar

Mursal Kautsar
Redaksi Fala

Gambar Ilustrasi (Grafis: Fala.co.id)

Idul Adha bukan semata hari ketika hewan-hewan disembelih. Ia adalah hari ketika manusia diajak memotong sesuatu yang paling diam-diam menguasai dirinya: kehendak, kepemilikan, dan cinta yang menjauhkan hati dari Sang Pemilik.

Di sebuah kasidah Arab dari tradisi Tlemcen, Aljazair, kisah itu dilantunkan dengan nada yang membuat Idul Adha terasa bukan sekedar perayaan, melainkan ziarah batin. Kasidah itu dikenal dengan judul “Ibrahim al-Khalil”, dibuka dengan larik:

نستغفر قبل ما نقول

على النبي الرسول إبراهيم الخليل

Kami memohon ampun sebelum bertutur, tentang Nabi dan Rasul, Ibrahim sang kekasih Allah.

Kasidah tersebut hidup lama dalam ingatan masyarakat Aljazair dan sangat melekat dengan suasana Idul Adha melalui suara Syekh Abdelkrim Dali. Ia tidak hanya menyanyikan peristiwa penyembelihan. Ia membawa pendengar masuk ke dalam sunyi seorang ayah, kepada gemetar seorang nabi yang harus membuktikan bahwa cinta kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh apa pun, bahkan oleh anak yang paling dicintai. Arsip kebudayaan Aljazair mencatat teks kasidah ini sebagai syair yang berkisah tentang Ibrahim al-Khalil dan putranya, Ismail.

Ibrahim bukan seorang ayah yang tidak memiliki rasa. Justru karena cintanya begitu utuh kepada putranya, ujian itu menjadi sedemikian agung. Ismail bukan benda yang ringan untuk diserahkan. Ia adalah doa yang bertahun-tahun dipanjatkan, harapan yang lahir di usia senja, buah dari penantian panjang seorang hamba yang pernah merasakan sepi dalam pengabdian.

Namun Tuhan, dengan cara yang hanya dapat dipahami oleh hati-hati yang telah matang dalam tauhid, menguji Ibrahim bukan ketika ia tidak memiliki apa-apa. Allah mengujinya setelah ia memiliki sesuatu yang paling ia cintai.

Di situlah jalan para pecinta bermula. Manusia sering merasa dekat kepada Allah ketika belum memiliki apa pun. Tetapi ketika doa telah dikabulkan, ketika tangan telah menggenggam nikmat, ketika cinta telah menemukan tempatnya, saat itulah pertanyaan paling dalam datang: masihkah Allah menjadi tujuan, atau justru pemberian-Nya telah menggantikan-Nya di dalam hati?

Al-Qur’an mengabadikan percakapan itu dengan ketenangan yang mengguncang jiwa:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ia menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

QS Ash-Shaffat: 102

Tidak ada pemberontakan dalam jawaban Ismail. Tidak ada kalimat menggugat mengapa dirinya yang harus menjadi korban. Tidak ada upaya lari dari takdir yang datang melalui seorang ayah yang sangat mencintainya.

Yang keluar dari lisannya justru kalimat yang menjadi puncak adab seorang hamba: “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Kalimat itu bukan lahir dari hati yang kosong dari rasa takut. Ia lahir dari jiwa yang telah mengenal kepada siapa dirinya kembali. Ismail mengetahui bahwa hidup bukan miliknya. Tubuh bukan miliknya. Masa depan bukan miliknya. Ia adalah titipan Allah, dan apabila Pemilik titipan memanggilnya kembali, tidak ada jawaban paling indah selain berserah.

Di hadapan ujian itu, Ibrahim dan Ismail tidak sedang memainkan drama kehilangan. Mereka sedang menaiki tangga tertinggi dalam penghambaan: seorang ayah bersedia melepaskan yang paling dicintai, dan seorang anak bersedia menyerahkan hidupnya demi ketaatan kepada Tuhan.

Al-Qur’an menyebut keadaan itu dengan kalimat yang sangat singkat, tetapi luasnya melebihi samudra:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.

Keduanya telah berserah. Bukan hanya Ismail yang disembelih dalam peristiwa itu. Ibrahim pun sedang menyembelih dirinya sendiri: rasa memiliki, kelembutan seorang ayah, keinginan untuk mempertahankan anak yang dicintainya, dan segala sesuatu yang mungkin berdiri di antara dirinya dengan Allah.

Pisau telah diangkat. Tubuh telah direbahkan. Hati telah selesai diuji.

Namun Allah tidak membutuhkan darah Ismail. Allah tidak pernah haus kepada luka hamba-Nya. Yang dikehendaki-Nya adalah kejujuran cinta, apakah seorang hamba benar-benar mampu meletakkan Tuhan di atas semua yang ia miliki.

Maka sebelum pisau melukai leher sang anak, langit menurunkan rahmat:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.” QS Ash-Shaffat: 107

Inilah rahasia kurban yang sering hilang di tengah keramaian hari raya. Kurban bukan pertama-tama tentang kambing, sapi, atau daging yang dibagikan. Semua itu adalah syariat yang mulia, tetapi di baliknya ada jalan batin yang jauh lebih tajam: Allah meminta manusia menyembelih berhala-berhala kecil yang berdiam dalam dirinya.

Ada manusia yang tidak menyembah patung, tetapi menyembah kedudukan. Ada yang tidak bersujud kepada batu, tetapi seluruh hidupnya tunduk kepada harta. Ada yang bibirnya menyebut nama Allah, namun hatinya tidak sanggup kehilangan pujian, kekuasaan, kemewahan, bahkan dendam yang dipelihara bertahun-tahun.

Idul Adha datang seperti panggilan dari lembah Mina kepada setiap jiwa: apa “Ismail” yang terlalu engkau miliki di dalam hidupmu? Apa yang engkau cintai hingga membuatmu berat untuk taat? Apa yang engkau genggam begitu kuat hingga lupa bahwa seluruhnya hanya titipan?

Bagi Ibrahim, ujian itu bernama anak tercinta. Bagi manusia hari ini, ujian itu dapat bernama ego yang tidak mau merendah, harta yang enggan dibagi, jabatan yang membuat lupa diri, kebencian yang terus diwariskan, atau cinta dunia yang perlahan menutupi cahaya Tuhan.

Kurban menjadi suci bukan karena darah mengalir di tanah, tetapi karena kesombongan mengalir keluar dari hati. Daging kurban menjadi bermakna bukan karena ia sampai ke meja makan, tetapi karena ia membawa pesan bahwa seorang mukmin tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Seekor hewan yang disembelih dengan nama Allah seharusnya melahirkan manusia yang lebih lembut kepada sesama. Tidak layak seseorang mengangkat takbir pada pagi Idul Adha, namun tetap menutup mata dari lapar tetangganya. Tidak utuh seseorang mengenang kepasrahan Ismail, tetapi masih memelihara kekerasan, ketamakan, dan kebencian dalam dirinya.

Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah bukan berarti tidak mencintai dunia. Ia mencintai Ismail dengan sepenuh jiwa. Namun cinta itu tidak dibiarkan menjadi hijab yang menutup jalan kepada Tuhan. Ismail pun mengajarkan bahwa ketaatan bukan kelemahan. Berserah kepada Allah adalah kekuatan paling luhur, sebab hanya hati yang telah bebas dari ketakutan dunia yang sanggup berkata: “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Karena itu, Idul Adha sesungguhnya adalah hari kembalinya manusia kepada makna dirinya. Kita datang membawa hewan kurban, tetapi yang semestinya pulang dalam keadaan tersembelih adalah keserakahan. Kita mengangkat takbir, tetapi yang semestinya runtuh adalah keangkuhan. Kita membagikan daging, tetapi yang semestinya tumbuh adalah kasih sayang.

Di dalam gema kasidah “Ibrahim al-Khalil”, ada air mata seorang ayah, ada kepasrahan seorang anak, dan ada rahmat Tuhan yang datang tepat ketika seorang hamba telah menyerahkan seluruh dirinya.

Pada akhirnya, pisau Ibrahim tidak melukai Ismail. Pisau itu justru membelah tabir antara cinta manusia dan cinta Ilahi. Dari sana umat manusia belajar bahwa segala yang diserahkan kepada Allah tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan kembali dalam bentuk yang lebih suci: ketenteraman, kedekatan, dan kasih sayang yang tidak lagi diperbudak oleh kepemilikan.

Idul Adha bukan hari tentang kematian. Ia adalah hari ketika hati yang telah menyerah, dihidupkan kembali oleh Tuhan.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.

La ilaha illallah, Allahu Akbar.

Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

Catatan Sumber Publikasi

Kisah utama tulisan ini merujuk pada QS Ash-Shaffat ayat 102–107. Pengantar budaya menggunakan kasidah “Ibrahim al-Khalil / Nastaghfir Qabla Ma Naqul”, syair religius dalam tradisi Aljazair-Tlemcen yang dikenal luas pada perayaan Idul Adha dan dipopulerkan oleh Syekh Abdelkrim Dali. Arsip Patrimoine Culturel Algérien mencatat teksnya atas nama Rachid Ksentini, sementara pemberitaan budaya Aljazair menempatkannya sebagai warisan musikal Idul Adha yang melekat dengan lantunan Abdelkrim Dali.

Berita Lainnya

28 Mei 2026

PWI CUP I Halsel Siap Kick Off, Duel Eksebisi Jadi Prolog Kompetisi

27 Mei 2026

Pisau Ibrahim dan Cinta yang Tak Terluka

26 Mei 2026

Wabup Halmahera Selatan Pulang Kampung, Teguhkan Spirit Ibrahimiah

21 Mei 2026

Pusat Rekomendasikan Halmahera Selatan Bentuk Kantor Imigrasi Kelas III

19 Mei 2026

DKP Malut Sosialisasikan KKPRL di Obi

17 Mei 2026

Progres RS Pratama Pulau Makian Capai 91 Persen, Warga Halsel Menanti Layanan Kesehatan Lebih Dekat

Trending

Pisau Ibrahim dan Cinta yang Tak Terluka

Wabup Halmahera Selatan Pulang Kampung, Teguhkan Spirit Ibrahimiah

Pusat Rekomendasikan Halmahera Selatan Bentuk Kantor Imigrasi Kelas III

DKP Malut Sosialisasikan KKPRL di Obi