Juni 7, 2026

Helmi Umar Muchsin: “Bao La Mala ae Lo Longo, Ma mo Gawa oma Faya; Dema Nema Manca Moi Tesite, Ene Lo Ene”

Mursal Kautsar

Mursal Kautsar
Redaksi Fala

Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin, Ketua IKB Masatawa Ikbal Hi. Mustafa dan Supratman Mumang Tokoh Pemuda Kayoa Barat Bersama pemuka agama di Desa Bokimiake 6 Juni 2026 (Foto: Fala.co.id)

Di Busua, bahasa adalah jalan paling dekat menuju ingatan, identitas, dan rasa memiliki. Karena itu, ketika Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin membuka sambutannya dalam acara Selamatan Kampung Busua, Kecamatan Kayoa Barat, Jumat, 6 Juni 2026, ia tidak langsung berbicara dengan bahasa resmi pemerintahan. Ia memilih menyapa dengan bahasa Makian Luar.

“Bao La mala ae Lo longo, Ma mo Gawa oma Faya, Dema nema Manca Moi tesite, Ene Lo Ene,” kata Helmi.

Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki daya kultural yang kuat. Dalam terjemahan bebas, Helmi menyampaikan salam kekeluargaan. Papa dan saudara, Ibu, Nenek dan saudara, saya ini orang Makian Luar. Kita sama, kita dan kita.

Di hadapan masyarakat Busua, sapaan itu menjadi lebih dari pembuka pidato. Ia berubah menjadi penanda kedekatan. Sebuah isyarat bahwa pejabat yang datang bukan hanya membawa pesan pemerintahan, tetapi juga datang dengan kesadaran budaya, dengan penghormatan terhadap bahasa ibu, dan dengan pengakuan terhadap akar sosial masyarakat setempat.

Dalam tradisi masyarakat kepulauan, bahasa daerah selalu memiliki kedudukan penting. Ia menyimpan memori kolektif, garis kekerabatan, tata nilai, serta cara masyarakat memandang kehidupan. Bahasa Makian Luar, seperti banyak bahasa lokal lain di Maluku Utara, bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah sistem simbolik yang menjaga hubungan antara manusia, kampung, leluhur, dan alam sosialnya.

Sapaan Helmi terasa kuat karena ia menempatkan masyarakat sebagai keluarga besar. Kata-kata seperti papa, ibu, nenek, dan saudara menggambarkan struktur sosial yang akrab. Di dalamnya ada penghormatan kepada orang tua, pengakuan terhadap perempuan, penghargaan kepada leluhur, dan ikatan horizontal antarsesama warga.

Bagian paling kuat dari kalimat itu terdapat pada ungkapan “Ene Lo Ene”. Secara sederhana dimaknai sebagai kita sama, kita dan kita. Namun secara kultural, ungkapan ini dapat dibaca sebagai filosofi kebersamaan. Ia menolak jarak. Ia menghapus sekat antara pejabat dan warga, antara tamu dan tuan rumah, antara pemerintah dan masyarakat adat.

Dalam konteks Selamatan Kampung Busua, ungkapan itu menemukan ruang maknanya. Selamatan kampung bukan hanya acara biasa. Ia adalah ritus sosial yang mempertemukan doa, adat, sejarah, dan harapan kolektif. Masyarakat berkumpul bukan semata untuk merayakan tradisi, tetapi juga untuk memperbarui hubungan batin dengan kampungnya sendiri.

Di titik itu, bahasa Makian Luar yang disampaikan Helmi bekerja sebagai jembatan kultural. Ia menyambungkan ruang pemerintahan dengan ruang adat. Ia membuat sambutan resmi terasa lebih dekat, lebih lembut, dan lebih membumi. Bahasa daerah menjadi medium diplomasi budaya yang halus, tetapi berpengaruh.

Sebab dalam masyarakat tradisional, penghormatan tidak selalu ditunjukkan melalui pidato panjang. Kadang cukup dengan satu kalimat dalam bahasa ibu. Satu sapaan yang tepat dapat membuat warga merasa dilihat, dihargai, dan diakui sebagai pemilik tradisi.

Helmi tampaknya memahami itu. Dengan menyebut dirinya sebagai orang Makian Luar, ia sedang meletakkan identitasnya dalam ruang yang sama dengan masyarakat. Ia tidak berbicara dari menara kekuasaan, tetapi dari lingkaran kekeluargaan. Dari bahasa yang sama, rasa yang sama, dan akar kebudayaan yang saling bersambung.

Selamatan Kampung Busua pun memperoleh makna yang lebih luas. Bukan hanya peristiwa adat di Kayoa Barat, tetapi juga panggung kecil tempat bahasa daerah menunjukkan martabatnya. Di tengah arus modernisasi, bahasa lokal masih mampu berdiri sebagai sumber etika sosial, pengetahuan budaya, dan energi persatuan.

Baca Juga:

Karena itu, kalimat “Bao La mala ae Lo longo, Ma mo Gawa oma Faya, Dema nema Manca Moi tesite, Ene Lo Ene” layak dicatat bukan sekadar sebagai kutipan sambutan. Ia adalah pesan budaya. Bahwa kampung hidup karena bahasa. Tradisi bertahan karena ingatan. Dan masyarakat menjadi kuat ketika masih bisa menyebut dirinya dalam bahasa sendiri.

Berita Lainnya

7 Juni 2026

Helmi Umar Muchsin: “Bao La Mala ae Lo Longo, Ma mo Gawa oma Faya; Dema Nema Manca Moi Tesite, Ene Lo Ene”

28 Mei 2026

PWI CUP I Halsel Siap Kick Off, Duel Eksebisi Jadi Prolog Kompetisi

27 Mei 2026

Pisau Ibrahim dan Cinta yang Tak Terluka

26 Mei 2026

Wabup Halmahera Selatan Pulang Kampung, Teguhkan Spirit Ibrahimiah

21 Mei 2026

Pusat Rekomendasikan Halmahera Selatan Bentuk Kantor Imigrasi Kelas III

19 Mei 2026

DKP Malut Sosialisasikan KKPRL di Obi

Trending

PWI CUP I Halsel Siap Kick Off, Duel Eksebisi Jadi Prolog Kompetisi

Pisau Ibrahim dan Cinta yang Tak Terluka

Wabup Halmahera Selatan Pulang Kampung, Teguhkan Spirit Ibrahimiah

Pusat Rekomendasikan Halmahera Selatan Bentuk Kantor Imigrasi Kelas III