FALA, BACAN – Pengurus baru Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, periode 2026–2027 mulai menata langkah awal organisasi.
Rapat Kerja (Raker) yang berlangsung pada 17 hingga 18 April 2026 di Pulau Nusa Raa digelar sebagai tindak lanjut atas pelantikan resmi di Aula Kantor Bupati yang dihadiri langsung Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, pada 6 Maret lalu.
Kegiatan tersebut menjadi ruang konsolidasi struktural sekaligus pematangan arah gerak organisasi. Hadir dalam forum itu Ketua Pembina I Ikbal Hi Mustafa, Ketua Pembina II Indra Faris, serta seluruh jajaran pengurus PWI Halmahera Selatan (Halsel).
Dalam pembukaan rapat, Ikbal Hi Mustafa menyampaikan apresiasi atas kekompakan pengurus. Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat relasi sosial di tengah dinamika profesi jurnalistik.
“Silaturahmi adalah fondasi utama. Ia menjadi kunci dalam membangun sinergi, baik secara personal maupun dalam aktivitas peliputan dan kerja organisasi di semua sektor,” ujar Ikbal.
Menurutnya, dalam organisasi modern, kohesi internal dan jejaring eksternal merupakan modal sosial yang menentukan keberlanjutan serta efektivitas kerja. Tanpa silaturahmi yang kuat, energi kolektif akan mudah terfragmentasi.
Ia berharap PWI Halsel tetap solid, kuat, dan berintegritas tinggi dalam mengawal kebijakan serta program pemerintah.
“Soliditas bukan sekadar slogan. Ia adalah sistem nilai yang harus dijaga agar kepercayaan publik tetap terpelihara,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pembina II Indra Faris mengingatkan bahwa kerja jurnalistik tidak boleh berhenti pada rutinitas formal organisasi semata. Menurutnya, profesi wartawan memiliki dimensi kemanusiaan yang luas.
“Kerja PWI yang paling penting adalah kerja kemanusiaan. Wartawan adalah pilar demokrasi yang mampu membentuk pola pikir publik ke arah yang lebih baik,” ungkap Indra.
Ia menekankan bahwa media memiliki fungsi edukatif dan transformasional. Karena itu, PWI harus tampil mencerdaskan, menghadirkan nilai edukasi, serta memperkuat literasi publik melalui narasi yang konstruktif dan berimbang.
Ketua PWI Halsel, Samsudin Chalil, dalam arahannya menegaskan bahwa seluruh agenda organisasi, mulai dari Raker hingga implementasi program, membutuhkan kedalaman berpikir dan disiplin narasi berbasis fakta.
“PWI adalah organisasi jurnalis. Kita wajib mengedepankan Kode Etik Jurnalistik dalam setiap produksi berita. Hasil Raker bukan hanya dokumen, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara profesional,” tegas Samsudin.
Ia menjelaskan bahwa objektivitas, verifikasi, dan akurasi bukan sekadar prosedur teknis, melainkan prinsip utama dalam praktik jurnalistik. Tanpa ketiganya, kepercayaan publik akan mudah tergerus.
“Setiap berita yang kita tulis adalah representasi moral organisasi. Karena itu, narasi harus presisi, berbasis data, dan menjunjung tinggi KEJ. Integritas adalah identitas kita,” tambahnya.
Di lain sisi, Sekretaris PWI Halmahera Selatan, Sadam Hadi, menekankan pentingnya konsistensi dalam menerjemahkan hasil Raker ke dalam program kerja yang terukur. Ia menyebut dokumen Raker harus memiliki indikator capaian yang jelas agar tidak berhenti sebagai arsip organisasi.
Menurut Sadam, penguatan tata kelola internal menjadi prioritas. Administrasi yang tertib, komunikasi yang efektif, serta koordinasi lintas bidang akan menentukan kualitas implementasi keputusan organisasi.
“Raker ini adalah fondasi gerak kita satu tahun ke depan. Seluruh pesan pembina dan ketua harus kita konsolidasikan menjadi kerja nyata. Kita perkuat silaturahmi, kita jaga integritas, dan kita pastikan setiap program PWI memberi dampak nyata bagi publik,” ujar Sadam.
Ia menambahkan, PWI Halsel harus tetap disiplin secara organisasi sekaligus adaptif terhadap dinamika informasi. Dalam ekosistem media yang terus berubah, profesionalisme dan etika menjadi dua hal utama yang tidak bisa ditawar.
